Thanks for visiting :)

Senin, 02 November 2015

Tentang Hujan?

Kamu pilih mana? Musim hujan atau panas?

Hujan itu punya daya magis tersendiri, syahdu!

Ada masa dimana hujan selalu membawa saya pada perasaan rindu, mengobrak abrik kenangan yang sanggup memberikan senyum kecil, memberikan suasana yang bukan hanya menyenangkan tapi apa yaa namanya? Bahkan saya gak bisa ngasih kata yang sepadan untuk menggambarkan betapa nikmatnya moment menikmati hujan.

Mendung, gerimis, lalu hujan, itu adalah kombinasi sempurna jika bersanding dengan senja, segelas coklat hangat dan buku kesukaan. *saya rindu, rinduuu sekali melakukan ini saat hujan*

Gak tahu udah seberapa lama saya gak ketemu hujan, tapi saya gak pernah sekangen ini sama hujan.



Kamis, 22 Oktober 2015

"Pit, tahu alodita gak?"
"Iya, aku suka baca blognya"
"Iya gak nyangka yaa, dibalik "keliatannya" sempurna, tapi ternyata divonis gak bisa hamil secara natural"
"Iya, kasian, padahal banyak banget orang lain yang nunda punya anak bahkan buang buang anak"
"Yaa gabisa gitu juga dong pit, gak boleh menghakimi orang kayak gitu"

JLEB!

Obrolan ini terjadi lebih dari setengah tahun lalu, waktu saya masih kerja ke kantor tiap hari, ngobrol sama temen kerja tentang blogger cantik Alodita, waktu itu kalau tidak salah, dia baru share soal perjuangannya jadi IVT survivor di IG. Iya, obrolan yang bikin saya ketampar karena saya sering sekali secara tidak sadar menghakimi orang, yang bahkan saya tidak tahu kondisi sebenarnya seperti apa. Hanya sebatas lihat luarannya saja. Saat itu saya langsung mikir "iyaa yaa, toh orang yang menunda kehamilan atau yang "buang" anak pun, mungkin punya alasan kuat yang tidak saya tahu dan pahami, tapi bukan berarti saya berhak menghakimi bahwa mereka jahat atau embel embel lainnya. Saya toh bukan Tuhan yang bisa menentukan pahala dan dosa manusia juga.

Pagi ini, di salah satu postingan path teman kuliah saya, ada video seorang istri yang "curhat" tentang kondisi poligami yang dia alami. Saya sebenarnya lihat video tersebut sambil lalu saja, karena sebelumnya saya sudah lihat di newsfeed facebook, jadi saya anggap itu video viral biasa aja, cuma issuenya aja poligami. Then, selang beberapa jam sahabat saya chat menanyakan tentang sudah tahu belum tentang video tsb, dan dia mengirimkan link instagram yang terlibat di issue tersebut. Dua duanya perempuan cantik dan masih muda, gemas sekali melihatnya. Lalu, saya agak reaktif pas tahu suaminya kayak gimana, zzzz. Lalu kemudian saya terhempas ke obrolan yang dulu tentang jangan menghakimi orang. Sahabat saya pun bilang "pengen sih share di path tapi issuenya sangat sensitif". Iyaa poligami, ah itu sensitif sekali, menyangkut perasaan dan ilmu yang tidak saya kuasai. Terlebih kami berdua tidak tahu asal muasal alasan dibalik tindakan yang melakukan poligami itu :D

Tapi apapun issue-nya, saya rasanya happy sekali mengenal banyak orang - orang baik yang selalu mengingatkan saya pada hal baik juga. Mengingatkan saya untuk membuka mata lebih lebar, melihat tidak hanya dari sudut pandang orang kebanyakan tapi melihat celah sudut kecil yang tidak terlihat orang.

Yuk ah, sama sama belajar lebih positif dan tidak lagi jadi orang yang bisa menghamiki orang lain.

Anyway, selamat siang!




Selasa, 20 Oktober 2015

Gimana nanti atau nanti gimana?

Penting gak sih ngatur keuangan dari sekarang, kenapa gak nikmatin aja dulu apa yang ada sekarang, nanti nanti sih urusan belakangan, toh rezeki pasti ada aja kok? 

Kalau kamu, tipe yang mana?

Saya dulu adalah tipe yang gimana nanti ajalah, gaji satu bulan yaa dihabiskan untuk bulan itu, ga ada tabungan! Sampai mau nikah, baru deh kalang kabut karena ga punya simpenan yang mumpuni buat bisa bantu orang tua biayain pernikahan. *self toyor*

Oke, balik lagi ke topik. Saya sempet baca buku bagus dari Aditya Mulya judulnya Sabtu Pagi Bersama Bapak. Buku yang isinya nyeritain wejangan - wejangan alm, bapaknya untuk mengarungi bahtera rumah tangga *ah tsedap!. Buku ini bagus. BANGET! Kadang nyentil saya di sana sini karena beneran gak well prepared banget, salah satunya soal ngurusin keuangan. Emang sih dulu gaji saya kayaknya emang cukup buat hidup aja di Jakarta, tapi kalo liat banyak yang gajinya lebih kecil dan bisa nabung, kok saya jadi mikir kalo yang salah yaa saya, hehehe.

Sekarang, setelah menikah dan punya anak, saya dan suami sepakat untuk WAJIB membagikan penghasilan kami ke banyak pos - pos bulanan. Biasanya kami membaginya di amplop, untuk belanja bulanan, belanja harian, bayar listrik, internet dan TV kabel, sedekah, kasih ibu mertua (maklum masih nebeng di pondok mertua indah) dan ada standar minimal tiap bulan yang harus kita sisihkan untuk ditabung. 

Kenapa sih sama si tabungan kok kayaknya saya peduli sekali? Iya, soalnya saya harus terus ingetin diri saya sendiri untuk nabung, karena saya dan suami jujur saja blank soal urusan investasi. Jadi, satu satunya cara untuk menyimpan uang untuk keperluan masa depan atau keperluan tak terduga yaa cuma nabung. Mau investasi, pake reksadana? Kalo yang konservatif keuntungannya ga seberapa, mau yang menjanjikan harus pake cara agresif di reksadana saham yang kami berdua ga ngerti walo nanti ada MI yang bisa mengurusi, tapi rasanya kalau kami berdua ga punya basic knowledgenya pun ga berani ah. Hahaha. Mau sisihkan uang untuk asuransi, duh ini sih saya udah khatam ribetnya klaim dan tetek bengek lainnya (beberapa temen pun menyarankan untuk ga usah ikut asuransi). Ada lagi yang rekomendasikan untuk investasi di emas, nah kalo yang ini, kita pertimbangkan sih, selain karena bisa dipakai, juga bisa untuk keperluan dana darurat, karena cepat bisa dikonversikan lagi jadi uangnya gapake proses klaim dll.

Anywaaayyy, seberapa penting tabungan setelah menikah? 

Saya yakin sekali, banyak orang yang sudah mapan dan tidak perlu lagi memikirkan urusan nabung, karena perputaran uang dan kondisi finansialnya sudah sangat stabil. Tapi buat saya, yang dibesarkan oleh orang tua yang rata - rata, tidak berlebih dan tidak kurang, menjadi wajib untuk mikir tentang masa depan, terutama masa depan anak - anak saya nantinya. Inflasi yang pasti ga terbendung bikin saya dan suami suka mikir untuk gimana caranya buat ngimbangin si inflasi ini pas anak anak kuliah. Ah tapi gak usah sejauh itu, semisal sekarang baru 2,5 tahun menikah, pasti kepingin sekali punya aset sendiri, bukan pemberian orang tua, seperti rumah, kendaraan, alat elektronik/ furniture rumah, itu hanya bisa dibeli kalau kita punya kasnya dong. Atau pengen liburan keluarga rutin tiap tahun? Bisa dong kalau ada kasnya juga. Contoh lain, seperti kondisi tidak terduga kayak yang saya alami, Rasyid, anak pertama kami, ternyata punya hipospadi (atau kalau istilah orang jaman dulu, udah disunat dari lahir, padahal itu adalah saluran kencing berada di atas atau di bawah yang seharusnya), selama ini tidak ada masalah dengan hipospadinya, hanya dokter merekomendasikan untuk dioperasi karena khawatir akan mudah infeksi. Jadi, sebagai orang tua, kami pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak. Dan operasi di bagian kelamin tentu tidak murah. Dan Alhamdulillah karena setidaknya ada tabungan, biaya untuk operasi tidak perlu dikhawatirkan, walopun setelahnya harus ngulang nabung lagi karena akan langsung abis, hahahaha, sekarang sih tinggal siapin mental aja kapan mau bawa anaknya ke RS :D

Yaaa gitu deh, saya menulis ini untuk reminder buat diri saya kalau ada prioritas yang harus saya dan suami capai sesuai buku target kami. Dan kadang kala, saya sering sekali gak hirau kalau target kami masih jauh tapi suka susah banget buat "maksain" diri sendiri nabung. 

Jadi, ditantang suami buat nabung lebih banyak tiap bulan?

Challenge Accepted! *pasang sabuk*







Jumat, 07 Agustus 2015

Setelah berjuta - juta abad!

Setelah entahlah berapa taun yang lalu ketemu barengan bertiga gini, akhirnya bulan puasa kemarin, kita ketemu juga.

Temen kosan, temen begadang, temen tidur bareng berbulan bulan karena issue hantu di kosan, temen hina hinaan, temen nyari makan, temen jalan - jalan, temen seperjuangan di kampung Jatinangor sana. 

Ketemu after yearsss, dan banyak hal berubah dari hidup kami. Saya sudah berkeluarga, mereka menjalani hidup masing - masing dan yang paling bikin iri adalah kebiasaan mereka travelling. Ah aku sebal tapi senang sih liat mereka sakseis dan makin hits. Secara yang satu MT salah satu perusahaan pembiayaan terkemuka plus wirausahawan, yang satu lagi super sibuk jadi humas di lembaga anti korupsi kita. *duh bangga banget yaa temen gw keren keren, Hahaha

Cerita banyak soal hidup yang dijalani sekarang, dari mulai konflik kehidupan sampe tetep yaa, gosip! Hahaha.

Ada cerita pribadi yang saya simpan lama dan baru saya cerita sekarang, akhirnya pada tahu yee kenapa alesan gw dulu berubah di akhir2 jaman mau lulus lulusan. Oh drama banget hidup gw! hahhahaa

Anyway, kayaknya emang gak pernah cukup waktu sama manusia manusia ini. Seketika kangen banget sama suasana jaman kuliah dulu, dimana beban idup cuman tugas kuliah. Hahaha






Rabu, 05 Agustus 2015

Demam Go-jek

Jadi ceritanya kemarin, saya harus ikutan meeting ke daerah Kuningan sana, posisi saya dari Kebon Jeruk. Karena masih punya anak bayik yang pengennya gak kelamaan ditinggal, jadinya memutuskan untuk pesen gojek aja. Selain bisa lebih cepet nyampe karena bisa selip selip di jalanan Jakarta yang super ini, promo 10 ribunya masih ada. HOREEE!

Tapi harapan tinggal harapan, pergi akhirnya pakek ojek yang mangkal dengan harga nembak dan gatau jalan. BHAYY! 

*ceritanya akhirnya sampe Bakrie Tower dan meeting*

Pulangnyaaa, pengen coba lagi ah pesen gojek karena pas liat di GPS driver near me nya banyak nih yang kedetect. Ealaaahh kayaknya yang banyak itu pesenan orang kali yaa karena udah sejam nunggu gak juga dapet, akhirnya kembali pake ojek yang mangkal karena kalo naik taksi dari kuningan - kebon jeruk di after office hour? DIE. Hahahaha

Tapi, menariknya ojek yang pulangnya ini rapi, sopan, jadi saya gak segan ngajak ngobrol, soalnya emang penasaran sih pendapat ojek yang mangkal tentang gojek. Kurang lebih begini obrolannya :

Saya (S) : Bapak gak tertarik ikutan gojek pak? Kan kayaknya udah banyak yang masuk gojek
Bapak Ojek (BO) : Tertarik mbak, tapi KK saya masih KK daerah, saya lagi buat KK Jakarta sih cuman belum selesai, kalau sudah selesai rencananya mau coba daftar ke gojek juga"

S : Iya pak, habisan saya sering denger katanya menjanjikan gitu masuk gojek
BO : Betul mbak, menjanjikan. Kawan saya yang biasanya mangkal sudah 3 orang gak mangkal lagi, keliling terus narik gojek. Apalagi kalau fisiknya kuat, temen saya ada yang baru dua hari saldonya udah 1,2 juta
S (dalem hati) : Bujug 1,2 juta dua hari? Sehari 600rb? Kalo performanya konstan begitu sebulan doi bisa dapet 18 juta? *menatap nanar slip gaji sendiri*
S (udah ga dalem hati) : Wah gede banget Pak.
BO : Iya mbak, kalau fisik kuat sih kemana mana dikejar. Kalau saya udah ga kuat paling malam juga jam 9 sudah pulang.

S : Trus temen temen bapak yang mangkal pada suka marah gak sama gojek?
BO : Yaaa kalau yang lain saya gatau yaa, mungkin ada yang suka marah karena udah mangkal lama lama eh dateng penumpang yang bawa gojek. Ah tapi kalau saya sih namanya rezeki udah ada yang atur.
S : Iyalah yaa Pak, rezeki mah udah ada yang atur. *sok bijak*

BO : Tapi emang banyak loh mbak sekarang ini gojek, lebih enak juga karena kalau mangkal gini saya paling ikutin hari kerja, sabtu minggu mah sepi banget jadi gak narik. Kalau gojek kan kapan aja yaa, makanya saya pengen masuk, biar seeenggaknya bisa lebih baik pendapatannya.

Yaa seterusnya mengalir aja sih obrolan saya dari mulai cerita mudik si bapak yang gak mudik karena baru punya cucu pertama, sampe tentang komentarin gojek yang kita temuin sepanjang jalan pulang.

Intinya, perjalanan pulang kemarin sama bapak ojek, bikin saya pengen nulis ini, karena beberapa waktu lalu saya pernah baca blog orang yang katanya gojek itu menghapus seni naik ojek yang bisa tawar menawar dan berlangganan. *Etapi gatau pengalaman saya doang atau yang lain juga ngerasain kalau sekarang ojek biasa luar biasa sombongnya, saya selalu ketemu sama ojek yang "nembak harga mahal tapi songong, kalau gamau yaudah" yaelaaahh, sama sama butuh gausah gitu juga keless. zzzz

Buat saya, setelah ngobrol sama bapak ojek kemarin, rasanya kok jadi seneng ada gojek, karena yaa itu penghasilan mereka bisa meningkat tiap bulannya. Dan dengan dilindungi perusahaan, kedua belah pihak baik ojek maupun penumpang sebenernya sama sama saling menguntungkan.

Cheers!

Rabu, 27 Mei 2015

Tahun kedua!

Happy 2nd anniversary for us!

Yeay! Alhamdulillah sukses melalui tahun kedua pernikahan :)

Sudah 2 tahun, sudah dianugerahi jagoan kecil yang luar biasa menggembirakan rumah tangga kita, semua hampir sempurna walaupun tentu saja gak pernah ada kehidupan yang sesempurna itu, tapi sejauh perjalanan ini, rasanya dilancarkan.

Pagi tanggal 25 mei, dua tahun lalu, kita berjanji dihadapan Allah dan keluarga serta kerabat untuk saling menjaga dan mencintai. Kemarin, 25 mei, 2 tahun kemudian, kamu katakan doa baik untuk kita sebelum berangkat kerja, harapan semoga kita selalu bahagia, dan bersyukur atas segala hal yang sudah ada serta saling menguatkan pada setiap keadaan yang datang gak menguntungkan.


Semoga akan selalu ada tanggal 25 mei lainnya sampai kita menua dan menutup mata. 
Semoga hanya maut yang memisahkan kita. 
Semoga kita bisa selalu saling mengisi, melengkapi dan menerima kekurangan serta kelebihan kita.
Semoga kita bisa selalu jadi partner yang hebat untuk membesarkan Rasyid dan memberikan semua yang terbaik buatnya,
Semoga kita bisa menjadikan rumah tangga kita, berkah bagi banyak orang.
Semoga kita selalu bahagia.
Semoga kita selalu bersama gak hanya di dunia, semoga sampai di Jannah. AMIN :)

Anak kedua? #eh ;)

I love you, poi :*

Selasa, 12 Mei 2015

Mendadak Piknik!

Berawal dari pulang mudik pas long weekend libur MayDay lalu, si suami dengan randomnya minta pergi ke Cibodas. Katanya, dia pengen hirup udara seger dan liat yang ijo - ijo. Kalau sengajain dari Jakarta mah macet melulu, mumpung udah di Cianjur, deket dan gampang yawis cuss yuk ~~~

Si bayi pas sampe tidur nyenyak banget sampe sejam lebih. Trus pas bangun, diajak main air super dingin eh doi gak mau diangkat. Alhamdulillah semua senang. Quality timenya dapet juga sama mama teteh, cuma kurang papa aja yang kecapean jadi mau di rumah aja.










Kamis, 16 April 2015

Apa susahnya nikah?

Beberapa waktu lalu sempet ngobrol sama suami soal nikah. Awalnya karena adik ipar saya memang belum menikah dan suami agak "kurang cocok" sama pacarnya. Obrolan soal pernikahan pun jadi diskusi kami malam itu.

Apa susahnya nikah? Susah! Tapi bisa dihadapi kalau kita pegang komitmen kita dari awal menikah untuk apa dan sampai kapan. Lalu, kalau menurut kami yang baru menikah seumur jagung ini apa sih yang harus jadi pertimbangan saat memutuskan untuk menikah, tapi tentu diluar rencana pesta pernikahan yaa, ini cuma hal - hal pengalaman kami aja. Hehehe

1. Jujur soal penghasilan
Dulu, sebelum ijab qabul, saya dan suami sudah tahu gaji kami masing - masing, dan kalau lagi banyak waktu ngobrol, suka sesekali membahas gimana ngatur keuangan setelah menikah nanti. Ngobrol soal duit memang sensitif kalau masih pacaran, tapi kalau sudah pasti akan menikah, justru penting banget! Saya sudah sering dapat cerita, pernikahan yang selesai karena materi. Setelah menikah, pengaturan keuangan berjalan fleksibel, gak kaku. Tapi yang paling penting harus bisa nabung tiap bulannya. Sedikit sedikit toh lama lama bisa jadi bukit. Saya dan suami gak ngerti investasi. Jadi, kami masih pake cara konvensional kalo buat nyimpen uang. Di bank aja tabungin! Hahaha. Apa untungnya nabung, toh kan tetep gajian? Tiap bulan adalah penghasilan. Eits, jangan terlena gaess. Inget, setelah menikah, banyak hal yang harus dipikirkan. Walo sudah menikah, kita tetep pengen bisa bantuin orang tua masing - masing kan? Pengen juga dong punya rumah sendiri, gak numpang terus di rumah mertua atau ngontrak sampe tua? Trus kita pasti pengen punya keturunan kan? Biaya check up ke dokter spesialis kandungan, kemungkinan terburuk soal melahirkan, tentu harus diperhitungkan. Kalo gak punya dana darurat buat hal - hal gak terduga gimana? Kelimpungan kita gaess ~~~

2. Cinta sama suami doang gak sama keluarganya? KELAR!
Banyak kan artikel pernikahan selalu bahas,menikah itu bukan hanya menikah sama pasangan kamu tapi juga sama keluarga besarnya. BENER BANGET! Terlebih kalau untuk sementara kamu harus tinggal bareng dulu sebelum punya rumah sendiri, sayang juga sama keluarganya jadi hal mutlak! Hahaha. Kalau kita memendam perasaan gak suka sama salah satu anggota keluarga terutama keluarga inti, yang ada bakal emosi terus bawaannya. Trus uring - uringan sama pasangan dan amit amit bisa kelarrr  karena gak tahan.

3. Paham dan terima perbedaan latar belakang budaya
Nah, point yang ini masih nyambung sama yang nomor dua tadi. Kenapa latar belakang budaya harus jadi pertimbangan? Ini sih saya ngalamin banget fase - fase beradaptasi sama keluarga pasangan yang betawi tulen, dan sayanya yang sunda pisan. Susah banget memaklumi dan gak sakit hati kalau denger kata - kata keras dan ceplas ceplos (padahal di Betawi rata rata pada ngomongnya emang begitu) dimana seumur hidup saya tinggal di tanah Sunda yang ngomongnya alus alus itu PR banget loh! Belum lagi, banyak banget adat yang kalo keluarga saya mah cuek banget mau dipake atau enggak.Contohnya, kalau di Betawi, adatnya kalau misalkan keluarga suami main ke rumah, nanti harus dibales nih jadi saling mengunjungi gitu. Apalagi kalau lebaran, harus tuh yang udah dateng ke rumah itu dibalesin satu satu datengin balik. Maakk, capek maakk. Hahaha. Sedangkan dikeluarga aku biasanya cuma ngumpul di rumah yang dituakan di keluarga, ngumpul seharian disana, dan selesai! Yaa kayak gitu gitu deh. Pokoknya, serius deh, kalo beda budaya itu kita harus punya sabar yang rada ekstra buat maklum dan mau belajar beradaptasi. (Iyaa saya juga lg latihan sabar terus. Hahaha)

4. Saling tahu prinsip masing - masing
Kadang, kita dibesarkan dengan banyak nilai dari orang tua dan terus nempel sampai kita dewasa. Nilai - nilai ini tentu ada yang berbeda dari masing - masing orang tua. Begitu juga kita dan pasangan kita. Saat nikah, harus tuh diobrolin apa aja prinsip yang harus dan gak boleh dilakuin sama suami atau istri. Misalnya kalau saya dan suami, sepakat soal saya sebagai istri masih boleh bekerja (karena saya selalu ditanamkan oleh orang tua saya untuk bisa mandiri, suatu saat terjadi sesuatu sama suami atau sama pernikahan saya, saya masih bisa survive dan mandiri tanpa bergantung segalanya sama suami), tapi ada juga pasangan lain yang saya tahu, melarang istrinya bekerja. Dan banyak kasus lainnyalah.

Yaaa jadi begitu deh, bed time story saya dan suami beberapa waktu lalu dan kayaknya mesti saya tulis di blog siapa tahu bisa jadi bahan pertimbangan siapa aja yang akan menikah.

Apa susahnya nikah? Susah! Tapi bisa dihadapi kalau kita pegang komitmen kita dari awal menikah untuk apa dan sampai kapan.






Kamis, 09 April 2015

Kangen Jatinangor

Jadi, tadi malem gatau kenapa tetiba kangen jatinangor. Awalnya gegara tadi malem lagi antri beli macaroni pedes (diarea kampus binus), padahal sih sebenernya tiap hari juga lewatin area binus secara rumah mertua yaa di belakang kampus ini. Tapi, gatau kenapa kok tadi malem pas liat wara wiri mahasiswa jalan sama temen - temen kampusnya, ngobrol dan nongkrong sekitaran kampus sampe malem. Ahhh, tetiba jadi nostalgia jaman kuliah dulu.

Saya kuliah 2 kali, D3 selama 3 tahun di Jatinangor dan meneruskan 2 tahun lagi S1 di Dago Pojok. Tapi tetep entah deh yaa, yang paling berkesan dan gabisa dilupain yaa semua cerita dari Jatinangor. Padahal kalo diliat dari lokasi, harusnya lebih seru di Dago Pojok, karena deket ke kota. Hahaha

Jatinangor itu yaaa, uhm, apa yaa kata yang paling pas menggambarkan kalau tempat ini sudah membawa sebagian hati saya dan akan selalu tersimpan disana. Kenapa sih kok kayaknya dalem banget ikatan bathin sama Jatinangor? Iyaa banget! Campur aduk cerita pernah terjadi disana. Serius deh, saya jamin mahasiswa jatinangor di era 2000an sebelum taun 2010 yaa pas pembangunan udah menggerus Jatinangor yang dulu ;)

1. Pertemanan
Di Jatinangor ini kemana - mana pasti ketemu mahasiswa rantau juga. Suasananya jadi yaa kayak kampung mahasiswa aja. Saya banyak banget dapet temen seru yang bahkan sampai saat ini sudah 10 tahun masih temenan bahkan sahabatan. Pernah satu kost sama temen - temen satu inner circle, begadang tiap malem cuma buat main UNO, monopoli atau cuman nonton film yang berakhir makan tengah malem. Kuliah tiap hari juga gak selalu langsung pulang, nongkrong nongkrong cantik ala ala dulu sama temen - temen, ngobrol sana ngobrol sini sambil cari cari mangsa siapa tahu dapet pacar #eh . Hahahaha. Punya inner circle 2. Temen sekelas namanya Grawphiwii isinya cewek semua dan temen sekampus fikom namanya hura hura galau. Ahh rindu sekali saya sama masa - masa ini *nulis sambil senyam senyum inget cerita jaman dulu*

2. Percintaan
Gak afdol lah kalau cerita Jatinangor tanpa cerita percintaan. Banyaaakkk sekali teman yang bahkan sampai menikah dan punya anak dengan berawal dari cinta lokasi di Jatinangor. Hihi. Saya sendiri pernah beberapa kali punya cerita pacaran disana. Dari yang bahagia, sampe yang nyebelin dan bikin sakit hati. Dari yang paling lama sampe paling sebentar. Ah, juaraa sekaliiii iniiiii cerita cinta disanaa *gemes sendiri nulisnya* *lalu inget suami sama anak* hahaha. Pokoknya buat semua cerita tentang hati, pasti ada ruang tersendiri yang gak akan dilupa. Halooo mantan pacar, mantan gebetan, mantan yang disuka tapi ga dapet. Hahahaha apakabar? ;))))

3. Makan
Urusan makan itu urusan paling gampang sedunia deh di Jatinangor! Laper tengah malem atau pagi buta? Tinggal SMS, langsung dikirimin, pake bonus bisa kasbon dulu pulak kalo udah kenal. Hahaha. Belum lagi segala makan makanan enak harganya muraaaahhh sekali. Saya inget banget dulu makan paling mahal itu makan soto A3 yang harganya 13 ribu. Yang lainnya dibawah itu semua harganya. Ayam kalasan komplit aja cuma 7rb. Ada juga paket paparonz pizza di Jatos, tiap jam 12 - 3 siang ada paket 15 ribu udah dapet 1 pan kecil pizza sama segelas es lemon tea! Aakkkk, mau ke nangor sekarang juga pllisss! Hahaha

4. Semua serba murah
Kapan lagi deh nonton cuma 10 ribu doang? Iyaaa bisa banget deh di Jatos. Saya sama temen saya dulu bahkan bisa marathon nonton kalo lagi iseng. Billiard juga murah. Emang sih dulu belum selengkap sekarang fasilitas hiburannya, tapi gatau kenapa rasanya cukup aja. Apalagi kalau dulu jaman - jamannya sering ada acara musik di kampus. Jadi, kayaknya ga ada sarana hiburan super lengkap macam di Bandung atau Jakarta pun gak masalah.

5. Cerita horor
Eitts, jangan salaahh. Jatinangor ini juga kasih saya cerita cerita mistis. Dari kost - kostan yang tiap tahun pindah dan semuanya pasti ada penunggunya. Kosan pertama, pas mama dateng, langsung deh "kenalan" sama gadis seumuran saya kata mama, eehh pas mama pulang ke rumah katanya ngikutin (iyaa, mama saya punya six sense). Kosan kedua gak kalah horor, pernah berbulan bulan tidur sama Dini & Egha barengan gegara pernah ada yang kesurupan dan minta dicariin jasadnya di area kosan itu (Ealaahh...) dan yang ketiga sih yang paling aman. Ada sih penunggunya tapi gak jail sama saya, mungkin sama yang lain sih jail. Hihihi.  Pernah juga dulu tengah malam abis acara musik di kampus fikom pas lewatin lapangan tengah unpad tuh yang gede banget yang depan fisip jelas banget kedengeran suara gamelan jawa ( Bhaaayy ~~~) . Ada lagi pas pulang makan malem di Pajawan jam 1 pagi, salah satu temen bisa ngeliat, ngeliat banyak banget kayak kurcaci tua di bangunan yang sekarang jadi kos - kosan di seberang gerbang unpad. Hahahaha

Ahhh, pokoknya gak akan ada habisnya kayaknya cerita soal Jatinangor. Pokoknya soon banget pengen ajak swami sama Rasyid kesana. Pengen napak tilassss dan makan makanan favorite jaman dulu. ;)

Ini sisa sisa foto di Jatinangor, nyomot dari FBnya Dini :D Hahaha