Thanks for visiting :)

Senin, 28 Desember 2015

Kecilnya momoi sama popoi

Kemaren mama mertua tiba tiba dateng bawa se-tas foto foto jadul. Trus liatin foto kecilnya suami :D

Kalau diliat - liat si suami dari kecil mukanya gak berubah, kalau saya liat muka saya pas kecil juga agak mirip. Tapi kalau si Rasyid, dari mulai dia lahir sampe sekarang mukanya berubah ubah terus, bedaaaa banget dari kecilnya sampe sekarang. Hahaha

Kalau liat foto foto kecil gini jadi kangen kecil lagi deh, alhamdulillah punya masa kecil yang menyenangkan.

Gimana dengan kamu? Masa kecilmu seru juga gak? ;)













Minggu, 13 Desember 2015

Ibu yang baik atau bukan?

"Anaknya udah bisa apa? Kalau si ini mah udah bisa ini ini ini "

"Sejak kapan bisa jalan? Ngomongnya udah lancar juga belum?"

"Ih anaknya diem yaa, coba kalau anak gw mah bla bla bla bla"

"Giginya udah berapa? Ohh, kalo si ini mah udah segini loh. bla bla bla"

"Masih ASI? Ih hebat, si ini mah bla bla bla"


Halo bu ibuuu, sering banget ketemu pertanyaan - pertanyaan default kayak tadi? Oh kalau saya, udah khatam sekali. Dan udah sejak lama kepingin nulis tentang ini tapi males, gak sempet melulu.

Anyway, Rasyid anak saya udah 1 tahun 5 bulan. Lagi alhamdulillah bikin pinggang pegel dan mata gak boleh meleng sedikit, langsung suka ajaib kelakuannya. Buat saya perkembangannya suka gak terduga, dan bikin saya cuma diam - diam senyum dalam hati ngeliat tingkahnya tiap hari (yaaa, walopun kalo lagi gak mood suka emosi juga, hahaha)

Saya ini bukan ibu yang baik. Iyaa saya sadar kok, saya gak sempurna jadi ibu, saya bukan ibu yang sangat selektif soal pengaturan makanan Rasyid karena saya gak kasih pantangan apa apa soal apa yang mau dimakan, kecuali mecin, gak boleh banyak, hahahhaa (itu doang pantangannya :D), bukan ibu yang punya nomor HP dokter spesialis anak, yang kalau ada apa apa selalu telepon dokter karena kalau sakit, random aja sih ada dokter yang mana yang avalaible yaudah cuss aja, bukan ibu yang musuhan sama HP kalau main sama Rasyid karena saya masih bisa update path atau instagram dan post foto dia, hahaha, bukan juga ibu yang bangga banggain dan nunjukin kebisaan Rasyid didepan siapapun kecuali orang itu yang lihat sendiri, saya ini ah, sudahlah, kalau dibandingkan dengan ibu lain saya ini list paling bawah deh.

Tapi, apa pun yang saya lakukan untuk Rasyid, semua saya lakukan dengan cara saya sendiri, cara yang saya nyaman menjalankannya. 

Saya memang bukan ibu yang sempurna, tapi sayalah orang yang paling tahu apa yang terbaik buat anak saya. Sayalah yang paling tahu kalau ada yang aneh sama anak saya. Sayalah yang paling tahu apa yang ingin dan harus saya lakukan sama anak saya. Bukan orang lain.

Jadi, buat ibu - ibu muda di luaran sana, gak usahlah dengerin orang - orang yang hobby-nya jadi hakim buat menilai ini ibu yang baik, ini ibu yang kurang baik. Karena selama predikat ibu melekat, segala hal yang kita lakukan buat anak kita, pasti berasal dari insting yang entahlah didapat darimana tapi rasanya selalu benar.





Jumat, 04 Desember 2015

Homesick

Waktu kuliah, pulang ke rumah bisa setiap weekend, setelah kerja, pulang ke rumah berubah jadi 2 minggu sekali, lalu setelah menikah, berubah lagi jadi satu bulan sekali.

Saya ini anak mama sekali, keterikatan saya ke mama itu di level paling juara deh butuhnya, segala hal diceritain (ah bahkan gak cerita aja si mama mah selalu tahu semuanya, haha), jadi homesick udah jadi hal yang sering banget dirasain.

Jauh dari mama, tinggal bersama keluarga suami yang notabene adalah orang - orang baru dalam hidup saya itu very very challenging, tapi namanya pengalaman hidup, yuk lah kita jalani dengan senang hati, walaupun kadang saya cuma pengen pulang. Pulang ke rumah, pulang ke mama.



Senin, 02 November 2015

Tentang Hujan?

Kamu pilih mana? Musim hujan atau panas?

Hujan itu punya daya magis tersendiri, syahdu!

Ada masa dimana hujan selalu membawa saya pada perasaan rindu, mengobrak abrik kenangan yang sanggup memberikan senyum kecil, memberikan suasana yang bukan hanya menyenangkan tapi apa yaa namanya? Bahkan saya gak bisa ngasih kata yang sepadan untuk menggambarkan betapa nikmatnya moment menikmati hujan.

Mendung, gerimis, lalu hujan, itu adalah kombinasi sempurna jika bersanding dengan senja, segelas coklat hangat dan buku kesukaan. *saya rindu, rinduuu sekali melakukan ini saat hujan*

Gak tahu udah seberapa lama saya gak ketemu hujan, tapi saya gak pernah sekangen ini sama hujan.



Kamis, 22 Oktober 2015

"Pit, tahu alodita gak?"
"Iya, aku suka baca blognya"
"Iya gak nyangka yaa, dibalik "keliatannya" sempurna, tapi ternyata divonis gak bisa hamil secara natural"
"Iya, kasian, padahal banyak banget orang lain yang nunda punya anak bahkan buang buang anak"
"Yaa gabisa gitu juga dong pit, gak boleh menghakimi orang kayak gitu"

JLEB!

Obrolan ini terjadi lebih dari setengah tahun lalu, waktu saya masih kerja ke kantor tiap hari, ngobrol sama temen kerja tentang blogger cantik Alodita, waktu itu kalau tidak salah, dia baru share soal perjuangannya jadi IVT survivor di IG. Iya, obrolan yang bikin saya ketampar karena saya sering sekali secara tidak sadar menghakimi orang, yang bahkan saya tidak tahu kondisi sebenarnya seperti apa. Hanya sebatas lihat luarannya saja. Saat itu saya langsung mikir "iyaa yaa, toh orang yang menunda kehamilan atau yang "buang" anak pun, mungkin punya alasan kuat yang tidak saya tahu dan pahami, tapi bukan berarti saya berhak menghakimi bahwa mereka jahat atau embel embel lainnya. Saya toh bukan Tuhan yang bisa menentukan pahala dan dosa manusia juga.

Pagi ini, di salah satu postingan path teman kuliah saya, ada video seorang istri yang "curhat" tentang kondisi poligami yang dia alami. Saya sebenarnya lihat video tersebut sambil lalu saja, karena sebelumnya saya sudah lihat di newsfeed facebook, jadi saya anggap itu video viral biasa aja, cuma issuenya aja poligami. Then, selang beberapa jam sahabat saya chat menanyakan tentang sudah tahu belum tentang video tsb, dan dia mengirimkan link instagram yang terlibat di issue tersebut. Dua duanya perempuan cantik dan masih muda, gemas sekali melihatnya. Lalu, saya agak reaktif pas tahu suaminya kayak gimana, zzzz. Lalu kemudian saya terhempas ke obrolan yang dulu tentang jangan menghakimi orang. Sahabat saya pun bilang "pengen sih share di path tapi issuenya sangat sensitif". Iyaa poligami, ah itu sensitif sekali, menyangkut perasaan dan ilmu yang tidak saya kuasai. Terlebih kami berdua tidak tahu asal muasal alasan dibalik tindakan yang melakukan poligami itu :D

Tapi apapun issue-nya, saya rasanya happy sekali mengenal banyak orang - orang baik yang selalu mengingatkan saya pada hal baik juga. Mengingatkan saya untuk membuka mata lebih lebar, melihat tidak hanya dari sudut pandang orang kebanyakan tapi melihat celah sudut kecil yang tidak terlihat orang.

Yuk ah, sama sama belajar lebih positif dan tidak lagi jadi orang yang bisa menghamiki orang lain.

Anyway, selamat siang!




Selasa, 20 Oktober 2015

Gimana nanti atau nanti gimana?

Penting gak sih ngatur keuangan dari sekarang, kenapa gak nikmatin aja dulu apa yang ada sekarang, nanti nanti sih urusan belakangan, toh rezeki pasti ada aja kok? 

Kalau kamu, tipe yang mana?

Saya dulu adalah tipe yang gimana nanti ajalah, gaji satu bulan yaa dihabiskan untuk bulan itu, ga ada tabungan! Sampai mau nikah, baru deh kalang kabut karena ga punya simpenan yang mumpuni buat bisa bantu orang tua biayain pernikahan. *self toyor*

Oke, balik lagi ke topik. Saya sempet baca buku bagus dari Aditya Mulya judulnya Sabtu Pagi Bersama Bapak. Buku yang isinya nyeritain wejangan - wejangan alm, bapaknya untuk mengarungi bahtera rumah tangga *ah tsedap!. Buku ini bagus. BANGET! Kadang nyentil saya di sana sini karena beneran gak well prepared banget, salah satunya soal ngurusin keuangan. Emang sih dulu gaji saya kayaknya emang cukup buat hidup aja di Jakarta, tapi kalo liat banyak yang gajinya lebih kecil dan bisa nabung, kok saya jadi mikir kalo yang salah yaa saya, hehehe.

Sekarang, setelah menikah dan punya anak, saya dan suami sepakat untuk WAJIB membagikan penghasilan kami ke banyak pos - pos bulanan. Biasanya kami membaginya di amplop, untuk belanja bulanan, belanja harian, bayar listrik, internet dan TV kabel, sedekah, kasih ibu mertua (maklum masih nebeng di pondok mertua indah) dan ada standar minimal tiap bulan yang harus kita sisihkan untuk ditabung. 

Kenapa sih sama si tabungan kok kayaknya saya peduli sekali? Iya, soalnya saya harus terus ingetin diri saya sendiri untuk nabung, karena saya dan suami jujur saja blank soal urusan investasi. Jadi, satu satunya cara untuk menyimpan uang untuk keperluan masa depan atau keperluan tak terduga yaa cuma nabung. Mau investasi, pake reksadana? Kalo yang konservatif keuntungannya ga seberapa, mau yang menjanjikan harus pake cara agresif di reksadana saham yang kami berdua ga ngerti walo nanti ada MI yang bisa mengurusi, tapi rasanya kalau kami berdua ga punya basic knowledgenya pun ga berani ah. Hahaha. Mau sisihkan uang untuk asuransi, duh ini sih saya udah khatam ribetnya klaim dan tetek bengek lainnya (beberapa temen pun menyarankan untuk ga usah ikut asuransi). Ada lagi yang rekomendasikan untuk investasi di emas, nah kalo yang ini, kita pertimbangkan sih, selain karena bisa dipakai, juga bisa untuk keperluan dana darurat, karena cepat bisa dikonversikan lagi jadi uangnya gapake proses klaim dll.

Anywaaayyy, seberapa penting tabungan setelah menikah? 

Saya yakin sekali, banyak orang yang sudah mapan dan tidak perlu lagi memikirkan urusan nabung, karena perputaran uang dan kondisi finansialnya sudah sangat stabil. Tapi buat saya, yang dibesarkan oleh orang tua yang rata - rata, tidak berlebih dan tidak kurang, menjadi wajib untuk mikir tentang masa depan, terutama masa depan anak - anak saya nantinya. Inflasi yang pasti ga terbendung bikin saya dan suami suka mikir untuk gimana caranya buat ngimbangin si inflasi ini pas anak anak kuliah. Ah tapi gak usah sejauh itu, semisal sekarang baru 2,5 tahun menikah, pasti kepingin sekali punya aset sendiri, bukan pemberian orang tua, seperti rumah, kendaraan, alat elektronik/ furniture rumah, itu hanya bisa dibeli kalau kita punya kasnya dong. Atau pengen liburan keluarga rutin tiap tahun? Bisa dong kalau ada kasnya juga. Contoh lain, seperti kondisi tidak terduga kayak yang saya alami, Rasyid, anak pertama kami, ternyata punya hipospadi (atau kalau istilah orang jaman dulu, udah disunat dari lahir, padahal itu adalah saluran kencing berada di atas atau di bawah yang seharusnya), selama ini tidak ada masalah dengan hipospadinya, hanya dokter merekomendasikan untuk dioperasi karena khawatir akan mudah infeksi. Jadi, sebagai orang tua, kami pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak. Dan operasi di bagian kelamin tentu tidak murah. Dan Alhamdulillah karena setidaknya ada tabungan, biaya untuk operasi tidak perlu dikhawatirkan, walopun setelahnya harus ngulang nabung lagi karena akan langsung abis, hahahaha, sekarang sih tinggal siapin mental aja kapan mau bawa anaknya ke RS :D

Yaaa gitu deh, saya menulis ini untuk reminder buat diri saya kalau ada prioritas yang harus saya dan suami capai sesuai buku target kami. Dan kadang kala, saya sering sekali gak hirau kalau target kami masih jauh tapi suka susah banget buat "maksain" diri sendiri nabung. 

Jadi, ditantang suami buat nabung lebih banyak tiap bulan?

Challenge Accepted! *pasang sabuk*







Jumat, 07 Agustus 2015

Setelah berjuta - juta abad!

Setelah entahlah berapa taun yang lalu ketemu barengan bertiga gini, akhirnya bulan puasa kemarin, kita ketemu juga.

Temen kosan, temen begadang, temen tidur bareng berbulan bulan karena issue hantu di kosan, temen hina hinaan, temen nyari makan, temen jalan - jalan, temen seperjuangan di kampung Jatinangor sana. 

Ketemu after yearsss, dan banyak hal berubah dari hidup kami. Saya sudah berkeluarga, mereka menjalani hidup masing - masing dan yang paling bikin iri adalah kebiasaan mereka travelling. Ah aku sebal tapi senang sih liat mereka sakseis dan makin hits. Secara yang satu MT salah satu perusahaan pembiayaan terkemuka plus wirausahawan, yang satu lagi super sibuk jadi humas di lembaga anti korupsi kita. *duh bangga banget yaa temen gw keren keren, Hahaha

Cerita banyak soal hidup yang dijalani sekarang, dari mulai konflik kehidupan sampe tetep yaa, gosip! Hahaha.

Ada cerita pribadi yang saya simpan lama dan baru saya cerita sekarang, akhirnya pada tahu yee kenapa alesan gw dulu berubah di akhir2 jaman mau lulus lulusan. Oh drama banget hidup gw! hahhahaa

Anyway, kayaknya emang gak pernah cukup waktu sama manusia manusia ini. Seketika kangen banget sama suasana jaman kuliah dulu, dimana beban idup cuman tugas kuliah. Hahaha






Rabu, 05 Agustus 2015

Demam Go-jek

Jadi ceritanya kemarin, saya harus ikutan meeting ke daerah Kuningan sana, posisi saya dari Kebon Jeruk. Karena masih punya anak bayik yang pengennya gak kelamaan ditinggal, jadinya memutuskan untuk pesen gojek aja. Selain bisa lebih cepet nyampe karena bisa selip selip di jalanan Jakarta yang super ini, promo 10 ribunya masih ada. HOREEE!

Tapi harapan tinggal harapan, pergi akhirnya pakek ojek yang mangkal dengan harga nembak dan gatau jalan. BHAYY! 

*ceritanya akhirnya sampe Bakrie Tower dan meeting*

Pulangnyaaa, pengen coba lagi ah pesen gojek karena pas liat di GPS driver near me nya banyak nih yang kedetect. Ealaaahh kayaknya yang banyak itu pesenan orang kali yaa karena udah sejam nunggu gak juga dapet, akhirnya kembali pake ojek yang mangkal karena kalo naik taksi dari kuningan - kebon jeruk di after office hour? DIE. Hahahaha

Tapi, menariknya ojek yang pulangnya ini rapi, sopan, jadi saya gak segan ngajak ngobrol, soalnya emang penasaran sih pendapat ojek yang mangkal tentang gojek. Kurang lebih begini obrolannya :

Saya (S) : Bapak gak tertarik ikutan gojek pak? Kan kayaknya udah banyak yang masuk gojek
Bapak Ojek (BO) : Tertarik mbak, tapi KK saya masih KK daerah, saya lagi buat KK Jakarta sih cuman belum selesai, kalau sudah selesai rencananya mau coba daftar ke gojek juga"

S : Iya pak, habisan saya sering denger katanya menjanjikan gitu masuk gojek
BO : Betul mbak, menjanjikan. Kawan saya yang biasanya mangkal sudah 3 orang gak mangkal lagi, keliling terus narik gojek. Apalagi kalau fisiknya kuat, temen saya ada yang baru dua hari saldonya udah 1,2 juta
S (dalem hati) : Bujug 1,2 juta dua hari? Sehari 600rb? Kalo performanya konstan begitu sebulan doi bisa dapet 18 juta? *menatap nanar slip gaji sendiri*
S (udah ga dalem hati) : Wah gede banget Pak.
BO : Iya mbak, kalau fisik kuat sih kemana mana dikejar. Kalau saya udah ga kuat paling malam juga jam 9 sudah pulang.

S : Trus temen temen bapak yang mangkal pada suka marah gak sama gojek?
BO : Yaaa kalau yang lain saya gatau yaa, mungkin ada yang suka marah karena udah mangkal lama lama eh dateng penumpang yang bawa gojek. Ah tapi kalau saya sih namanya rezeki udah ada yang atur.
S : Iyalah yaa Pak, rezeki mah udah ada yang atur. *sok bijak*

BO : Tapi emang banyak loh mbak sekarang ini gojek, lebih enak juga karena kalau mangkal gini saya paling ikutin hari kerja, sabtu minggu mah sepi banget jadi gak narik. Kalau gojek kan kapan aja yaa, makanya saya pengen masuk, biar seeenggaknya bisa lebih baik pendapatannya.

Yaa seterusnya mengalir aja sih obrolan saya dari mulai cerita mudik si bapak yang gak mudik karena baru punya cucu pertama, sampe tentang komentarin gojek yang kita temuin sepanjang jalan pulang.

Intinya, perjalanan pulang kemarin sama bapak ojek, bikin saya pengen nulis ini, karena beberapa waktu lalu saya pernah baca blog orang yang katanya gojek itu menghapus seni naik ojek yang bisa tawar menawar dan berlangganan. *Etapi gatau pengalaman saya doang atau yang lain juga ngerasain kalau sekarang ojek biasa luar biasa sombongnya, saya selalu ketemu sama ojek yang "nembak harga mahal tapi songong, kalau gamau yaudah" yaelaaahh, sama sama butuh gausah gitu juga keless. zzzz

Buat saya, setelah ngobrol sama bapak ojek kemarin, rasanya kok jadi seneng ada gojek, karena yaa itu penghasilan mereka bisa meningkat tiap bulannya. Dan dengan dilindungi perusahaan, kedua belah pihak baik ojek maupun penumpang sebenernya sama sama saling menguntungkan.

Cheers!

Rabu, 27 Mei 2015

Tahun kedua!

Happy 2nd anniversary for us!

Yeay! Alhamdulillah sukses melalui tahun kedua pernikahan :)

Sudah 2 tahun, sudah dianugerahi jagoan kecil yang luar biasa menggembirakan rumah tangga kita, semua hampir sempurna walaupun tentu saja gak pernah ada kehidupan yang sesempurna itu, tapi sejauh perjalanan ini, rasanya dilancarkan.

Pagi tanggal 25 mei, dua tahun lalu, kita berjanji dihadapan Allah dan keluarga serta kerabat untuk saling menjaga dan mencintai. Kemarin, 25 mei, 2 tahun kemudian, kamu katakan doa baik untuk kita sebelum berangkat kerja, harapan semoga kita selalu bahagia, dan bersyukur atas segala hal yang sudah ada serta saling menguatkan pada setiap keadaan yang datang gak menguntungkan.


Semoga akan selalu ada tanggal 25 mei lainnya sampai kita menua dan menutup mata. 
Semoga hanya maut yang memisahkan kita. 
Semoga kita bisa selalu saling mengisi, melengkapi dan menerima kekurangan serta kelebihan kita.
Semoga kita bisa selalu jadi partner yang hebat untuk membesarkan Rasyid dan memberikan semua yang terbaik buatnya,
Semoga kita bisa menjadikan rumah tangga kita, berkah bagi banyak orang.
Semoga kita selalu bahagia.
Semoga kita selalu bersama gak hanya di dunia, semoga sampai di Jannah. AMIN :)

Anak kedua? #eh ;)

I love you, poi :*